Di Myanmar Ditemukan Semut Neraka dengan Tanduk Logam
foto: u-report

Di Myanmar Ditemukan Semut Neraka dengan Tanduk Logam

Kita mengenal banyak hewan buas yang sangat ditakuti mulai dari singa hingga Dinosaurus yang pernah menghuni bumi ini. Namun, ternyata di dunia serangga pun ada serangga yang paling mengerikan, salah satunya yaitu seekor ‘Semut Neraka’ atau semut dengan tanduk logam di kepalanya.

Keberadaan semut neraka yang diketahui merupakan serangga kuno ini diketahui oleh Ilmuwan dari Jersey Institute of Technolog. Ia mengungkapkan penemuan seekor serangga yang diyakini merupakan Linguamyrmex vladi atau yang lebih dikenal dengan nama semut neraka.

Semut neraka tersebut ditemukan di dalam amber yang telah terkubur sejak 99 juta tahun lalu, yang berhasil ditambang di Myanmar. Amber sendiri merupakan resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya.

Sebagian besar amber di dunia ini berumur 30 sampai 90 juta tahun. Karena dulunya adalah resin pohon yang lunak dan lengket, kadang-kadang di dalam amber terdapat serangga dan bahkan hewan vertebrata yang kecil

Keunikan dari semut neraka itu yakni memiliki ‘senjata’ yang cukup mengerikan. Dimana di sekitar kepalanya terdapat senjata semacam tanduk clypeal yang diperkuat oleh sejumlah kandungan logam seperti kalsium, seng dan besi.

Bukan hanya itu, semut kuno itu juga memiliki rahang yang berbentuk L yang aneh. Dan menurut penelitian, semut yang kini diyakini sudah punah itu berburu dan mempertahankan diri dengan cara yang berbeda dan dramatis dibandingkan dengan semut modern.

Bisa diperkirakan semut tersebut menggunakan tanduk yang difortifikasi itu bersamaan dengan rahang berbentuk L untuk menusuk dan mengoyak mangsa berbadan lunak. Akan tetapi, diyakini semut yang tampak ganas itu telah mati pada periode Late Cretaceous dan Paleocene.

“Penyebab pasti kepunahan mereka tidak diketahui, namun menarik untuk dicatat bahwa semut neraka ditemukan di tiga lokasi deposit fosil di seluruh dunia, Myanmar, Prancis dan Kanada, yang berusia mulai dari 99 sampai sekitar 78 juta tahun yang lalu” kata Dr Phillip Barden.

 
 

Bagikan artikel ini

Facebook Twitter +Google