Inilah Tanda Wanita Atau Pria Yang Sering Lakukan Masturbasi

Inilah Tanda Wanita Atau Pria Yang Sering Lakukan Masturbasi

Solo Sex atau Masturbasi atau juga yang sering disebut Onani adalah kegiatan seksual tanpa persetubuhan yang sering dilakukan oleh pria maupun wanita. Bila dilakukan dengan benar, Onani memang dianggap sebagian besar dokter dan ahli masuk dalam kategori safesex. Yakni tidak terlalu sering dilakukan bahkan sampai menimbulkan ketagihan/kecanduan.

Seeperti dilansir Tribunnews.com dari Aam.my, sayangnya tidak ada batasan atau pembatasan rentan frekuensi orang melakukan onani sampai ketagihan. Adapun kecanduan onani, sama juga dengan kecanduan dengan benda lain, kecanduan onani tentu nampak negatif, baik untuk kesehatan maupun dari segi perilaku.

Dan kecanduan itu bisa dilihat oleh pelaku sendiri yakni dari fitur-fitur yang dirasakan oleh pelaku sendiri.
Misalnya lebih menyukai masturbasi atau onani dibandingkan hubungan seks normal, selalu akan mengulang lagi jika ada kesempatan, dan lain-lain.

Dan bila Anda merasa telah mengalami kecanduan onani, alangkah baiknya bila segera periksa diri Anda dan berusahalah semaksimal mungkin untuk menguranginya.

Adapun tanda orang telah sering onani, adalah sebagai berikut:

1. Menjadikan onani sebagai pelampiasan emosi

Tak diragukan lagi, gairah seks kadangkala meningkat ketika emosi sedang tidak stabil. Dan salah satu penyaluran yang umum dilakukan adalah dengan melakukan hubungan seks atau dengan masturbasi. Nah, jika Anda selalu menjadikan onani sebagai pelampiasan emosi Anda maka ada kemungkinan Anda telah kecanduan.

2. Timbul sakit pada area kelamin

Aktifitas onani melibatkan stimulasi yang intens pada area kelamin secara terus menerus. Pastinya, dengan terlalu sering masturbasi tentunya akan menimbulkan kerusakan pada jaringan yang terus menerus dirangsang. Akibatnya adalah timbul lecet pada kulit penis atau yang paling parah pembuluh darah jadi rusak. Jika ini yang Anda rasakan saat ini maka bisa dipastikan Anda terlalu banyak onani.

3. Terobsesi

Seperti orang yang terobsesi dengan makanan, maka orang yang terobsesi melakukan onani tidak bisa menghilangkan pikiran untuk melakukan onani dari pikirannya. Setiap ada kesempatan atau waktu luang, atau jika melihat sesuatu yang menggairahkan, maka pikirannya selalu mencari cara untuk melakukannya.

4. Timbul rasa malu

Menurut dari beberapa dokter, tampak paling umum dari orang yang sering melakukan masturbasi adalah kondisi psikisnya yang terganggu. Yakni dengan menurunnya tingkat kepercayaan diri dan malu saat berada di lingkungan sosial. Penampakan psikis seperti ini umumnya hanya dirasakan oleh orang yang melakukan onani terlalu sering.

5. Merasa Kesepian

Jika Anda merasa hampa, tidak memiliki teman untuk berbagi, malas beraktivitas dan lebih memilih melakukan masturbasi maka itu berarti Anda sudah kecanduan. Hal tersebut terjadi karena efek dari hormon dopamin yang Anda keluarkan saat mencapai orgasme.

6. Mengganggu hubungan

Bagi pasangan suami istri, onani bisa jadi adalah salah satu variasi seks yang bisa dilakukan secara bersama-sama. Akan tetapi bila salah satu pasangan malah lebih menikmati masturbasi sendiri dari mutual dan memiliki kemungkinan mengganggu hubungannya dengan pasangannya, maka itu adalah pertanda onani yang dilakukannya tidak normal lagi alias terlalu banyak.

7. Menyesal

Hampir setiap orang yang aktif melakukan onani memiliki perasaan bersalah dan selalu berniat berhenti onani setelah melakukannya. Akan tetapi, perasaan itu muncul hanya sesaat, ketika gairah seks bangkit lagi atau jika ada pemicu maka dia akan melakukannya lagi.

menyesal setelah masturbasi

Meskipun banyak dokter yang menyebut onani bahkan yang dilakukan terlalu banyak itu tidak berbahaya dan tidak akan membuat sperma habis. Akan tetapi aktivitas ini bukan berarti tanpa risiko sama sekali.

Banyak penelitian telah membuktikan adanya penurunan kualitas hidup pada orang-orang yang terlalu banyak onani atau kecanduan. Meskipun dampak paling umum terlihat sebatas hanya pada faktor psikis tetapi masalah-masalah psikis ini lambat laun tentu akan mempengaruhi kesehatan fisik juga.

 
 

Bagikan artikel ini

Facebook Twitter +Google