Netizen Heran, MUI Samarinda Menghukumi Polisi Tidur Makruh Hingga Haram
Unik

Netizen Heran, MUI Samarinda Menghukumi Polisi Tidur Makruh Hingga Haram

Shabari ·

Netijen dibuat heran dengan dua fatwa yang telah ditetapkan MUI Samarinda mengenai polisi tidur atau speed bump. Pasalnya dua fatwa itu yakni menghukumi polisi tidur makruh dan haram.

Polisi tidur dianggap makruh, apabila polisi tidur yang ada menghambat laju pengendara. Sedangkan akan menjadi haram apabila polisi tidur membahayakan pengguna jalan hingga memakan korban jiwa.

Sebenarnya, fatwa haram tentang keberadaan polisi tidur disampaikan langsung oleh Ketua MUI Samarinda, Zaini Naim sejak 2013 silam dan masih berlaku hingga saat. Fatwa ini berdasar pada sebuah hadis.

"Pada zaman Rasulullah SAW, kalau ada batu atau ranting di jalan saja harus disingkirkan," kata Zaini.

Sontak saja, kedua fatwa itu menimbulkan pro kontra dikalangan netizen. Banyak yang tidak habis pikir, Majelis Ulama Indonesia juga mengeluarkan fatwa haram untuk urusan seperti itu.

Namun, dalam agama islam memang segala aspek kehidupan memang telah diatur. Meski tampak aneh MUI sampai mengurusi polisi tidur. Namun pastinya semua orang akan sepakat bila polisi tidur yang akan menghambat dan membuat susah para pengendara sebaiknya disingkirkan.

Dan bagi polisi tidur yang keberadaannya malah menjadi penyebab kecelakaan atau membahayakan para pengendara sebaiknya sangat dihindari.

Dalam masalah polisi tidur, pemerintah Indonesia juga telah mengatur keberadaan polisi tidur lewat UU No 25 tentang kelengkapan jalan. Polisi tidur dibolehkan asal mendapat izin dari pihak berwewenang. Meski demikian tetap saja ada polisi tidur yang ukuran atau bentuknya yang mengganggu atau penempatan yang salah.

Bagaimana menurut anda?

Bagikan artikel ini