Pengakuan Miris TKW Dijadikan Budak Nafsu di Amerika , Tiap 45 Menit Melayani 1 Klien
Unik Internasional

Pengakuan Miris TKW Dijadikan Budak Nafsu di Amerika , Tiap 45 Menit Melayani 1 Klien

Damian D. ·

Menjadi pahlawan devisa tidak selamanya seperti dalam sinetron mudah dan selalu menghasilkan. Bahkan terkadang para tenaga kerja Indonesia harus merasakan pahitnya hidup di negeri orang. Salah satunya kisah pilu yang dialami TKW asal Indonesia Shandra Woworuntu. Sebelum pergi ke Negeri seberang dia bekerja sebagai analisis keuangan. 

Namun, pada saat krisis perbankan pada tahun 1998 dia dipaksa meninggalkan pekerjaannya. Padahal saat itu dia baru saja melahirkan anak perempuannya yang tentu saja membutuhkan dana untuk menghidupinya. Setelah mencari kerja kesana kemari akhirnya dia pun mendapatkan tawaran bekerja selama 6 bulan di Amerika Serikat. 

Awalnya dia mengira akan ditempatkan sebagai pelayan disebuah hotel. Setibanya di Amerika Serikat dia dijemput seorang pria bernama Johnny Wong di Bandara Kennedy. Wong akhirnya mengantarnya ke pria lain Sheraton Hotel dekat Main Street di Flushing. 

"Saya melihat pria itu membawa amplop uang besar ke Johnny Wong," ingat Woworuntu.

Tanpa disadari Shandra dia sudah berada dalam pusaran perdagangan manusia. Dia pun kemudian diantar ke pria lain yang akhirnya dia ditempatkan di Bayside, Queens. Disana dia tinggal dengan 2 wanita lainnya di sebuah loteng. Lalu, dia dipaksa untuk menanggalkan pakaiannya untuk melakukan pengecekan apakah dia memiliki penyakit kulit. 

Awalnya Shandra menolak, namun pria tersebut memaksa sambil menempelkan pistol ke dahinya. Setelah itu dia dibawa ke pelanggan dan dijual dengan harga $120 sampai denagn $350. "Setiap 45 menit, saya dijual seharga $ 120 sampai $ 350," kata Woworuntu.

"Saya diperdagangkan di Brooklyn, Queens, Manhattan, sebelumnya di Foxwoods Casinos," tukasnya.

Shandra akhirnya bisa terbebas dalam jerat perdagangan manusia tersebut setelah di selamatkan oleh FBI. Dia pun dimasukan kedalam sebuah penampungan dan akhirnya dia bekerja pada sebuah kedai. 

Ia akhirnya dapat kembali berkumpul dengan putrinya pada tahun 2004 dan sempat juga menikah meski akhirnya bercerai kembali.

Merasakan sakitnya dijual, dia akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang bergerak dalam Perdagangan Manusia bernama Mentari. 

Bagikan artikel ini