Tahun 2018 Akan Sering Terjadi Gempa, Karena Rotasi Bumi Melambat
Iptek Tragedi

Tahun 2018 Akan Sering Terjadi Gempa, Karena Rotasi Bumi Melambat

Shabari ·

Di awal tahun 2018, ibu Kota Indonesia dihebohkan dengan 3 kali di guncang gemba dengan kekuatan diatas 5 SR. Sontak saja goncangan gempa yang terjadi di daerah Lebak Banten ini membuat kepanikan di beberapa daerah sekitar terutama Jakarta yang memiliki banyak gedung tinggi.

Guncangan gempa yang terjadi di awal tahun 2018 ini diperkirakan baru awal saja. Pasalnya para peneliti memperkirakan tahun 2018 ini akan sering terjadi gempa bumi yang dipengaruhi oleh melambatnya rotasi Bumi. Meski perlambatannya diperkirakan kecil, namun akan mempengaruhi 'geliat' Bumi.

Penelitian yang dipresentasikan di pertemuan tahunan Geological Society of America itu mengungkap, perlambatan rotasi Bumi itu akan memicu gempa bumi. Sehingga, para ilmuwan menyimpulkan gempa bumi akan lebih sering terjadi.

Seperti dikutip dari laman Live Science, perlambatan rotasi Bumi selama 100 tahun terakhir memang pas momennya dengan jumlah gempa bumi yang lebih sering dari biasanya. Ahli geofisika dari University of Colorado Boulder, Roger Bilham, menjelaskan bahwa data jumlah gempa bumi yang terjadi setiap tahun dalam seabad terakhir, sudah ada dan diketahu banyak orang. Demikian juga dengan perubahan tingkat perlambatan rotasi Bumi.

"Yang kami lakukan adalah menghubungkan dan membandingkan dua daftar data yang sudah diketahui banyak orang itu dan membuat laporan yang menarik dan berguna," tulis Bilham dalam email kepada Live Science.

Mengenai perlambatan rotasi bumi menjadi penyebab banyak gempa, Bilham menjelaskan ketika perputaran Bumi melambat--walau dalam angka yang kecil-- khatulistiwa akan (equator) menyusut.

"Tetapi, lempengan tektonik tidak semudah itu menyusut. Artinya, ujung-ujung lempengan itulah yang menyusut. Meski penyusutan ini sangat kecil, namun memberi tekanan pada batas-batas lempengan tersebut--yang sudah tegang sebelumnya. Di situlah, gempa kemungkinan terpicu," katanya.

Penelitian ini dilakukannya bersama dengan ahli Geofisika lainnya dari University of Montana di Montana, Rebecca Bendick. Mereka berdua melihat sejarah gempa-gempa berkekuatan lebih dari 7 Skala Richter (SR) sejak 1900. Dan rata-rata, ada 15 gempa besar yang terjadi dalam setahun jika dilihat dari tahun 1900. Nah, dalam periode tertentu, terjadi 25-35 gempa di atas 7 SR dalam setahun.

Tim peneliti ini melihat kalu periode gempa besar lebih dari 20 kejadian itu bertepatan dengan rotasi Bumi yang melambat. Dengan kata lain dari rotasi yang melambat hari-hari pun berjalan lebih lama. Perlambatan rotasi Bumi itu sendiri bisa disebabkan oleh pola cuaca, seperti El Niño, arus lautan, dan perubahan di inti Bumi.

Dengan data dari Badan Antariksa milik Amerika Serikat, NASA, yang bisa melacak panjang hari hingga ke ukuran mikrodetik. Bilham menyebutkan perlambatan Bumi bisa diprediksi lima tahun sebelumnya.

Dari semua data tersebut, Bumi diperkirakan akan memasuki masa-masa panjang perlambatan rotasi, termasuk tahun 2018.

"Mengetahui bahwa gempa bumi akan lebih banyak dalam 5 hingga 7 tahun ke depan ini berguna bagi pemerintah semua negara, khususnya departemen perencanaan kota," ujarnya.

Sehingga Departemen terkait bisa mempertimbangkan pembangunan atau mempekuatan bangunan-bangunan dan infrastruktur lainnya agar tahan gempa besar yang akan muncul lebih sering.

"Namun, kami tidak memiliki informasi mengenai di mana gempa ini akan terjadi. Kami hanya tahu, gempa itu akan terjadi di batas-batas lempeng dunia," kata Bilham.

Jadi persiapkan bangunan rumah dan tempat kerja agar aman saat terjadi gempa bumi yah... Karena bersiap diri akan jauh lebih baik. Bagaimana menurut Anda?

Bagikan artikel ini