Viral, Guru Pukuli Murid Pakai Sepatu Karena Lantunkan Adjan Keras-Keras Dalam Kelas
Berita

Viral, Guru Pukuli Murid Pakai Sepatu Karena Lantunkan Adjan Keras-Keras Dalam Kelas

Shabari ·

Sebuah aksi kekerasan yang dilakukan guru perempuan di SMP 2 Magetan mengagetkan publik.

Meski aksi kekerasan guru pada murid sudah sering terdengar, namun alasan guru wanita ini memukul muridnya sangat mengejutkan bahkan video yang merekam aksinya viral di media sosial Facebook.

Kepala Sekolah SMPN 2 Magetan, Jawa Timur Nursalim yang juga Ketua PGRI Kabupaten Magetan telah memanggil dan menegur guru berinisial LS yang memukul muridnya menggunakan sepatu tersebut.

"Saya sudah peringatkan, saya juga prihatin dengan ulah LS itu. Sebenarnya sudah berulangkali, saya wanti-wanti (berpesan) kepada para guru agar tidak mudah main tangan. Harus bisa tahan emosi," kata Nursalim seperti dilansir dari Tribunnews.com.

Kejadian prmukulan itu diceritakan oleh seorang murid bernama Hafid, yang satu kelas dengan R (korban). Menurutnya sebelum kejadian kelas Hafid dan R kosong tidak ada guru, R kemudian melantunkan adjan dengan volume keras hingga terdengar sampai ruang guru.

Dan di tengah-tengah lantunan adjan, guru berinisial LS masuk ke kelas. R pun langsung berhenti, namun LS meminta R meneruskan adjannya.

Akan tetapi, saat R selesai melantunkan adjan, LS tiba-tiba melepas sepatu pantofel yang dikenakannya dan marah-marah.

"Tahu-tahu sepatu yang dipegang tangan kanan Bu LS itu dipukulkan ke bagian perut R, terus kemudian bagian muka dan kepala. Saat kejadian itu, ada teman yang memvideokan," kata Hafid.

Namun Hafid mengaku tidak tahu siapa yang mengunggah video aksi kekerasan guru itu ke media sosial.

Salah satunya, pengguna akun Facebook bernama Dwie Astuti mengunggah video aksi pemukulan guru perempuan terhadap siswa laki-lakinya pada Selasa (28/8/2018).  

Mengenai kejadian ini, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Magetan Djoko Susilo mengancam akan memasukkan guru itu ke Dindikpora alias menonjobkan.

Pihaknya mengaku kasus tersebut belum pernah ada yang melapor.

"Kalau memang Kasek setempat sudah sering memperingatkan dan tidak diindahkan, nanti akan kami panggil. Kalau kadar kesalahan berat, kita masukkan ke Dindikpora," kata Djoko Santoso.

Bagikan artikel ini