Wakasek di Denpasar Ini Lakukan Hal Tak Senonoh pada Siswinya di Hotel Sampai Mengajak Teman
Kriminal

Wakasek di Denpasar Ini Lakukan Hal Tak Senonoh pada Siswinya di Hotel Sampai Mengajak Teman

Shabari ·

Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sekaligus guru seni budaya di SMA swasta di Denpasar Putu Arif Mahendra, tega melakukan hal tak senonoh pada siswinya sendiri hingga berulang ulang bahkan sampai mengajak teman untuk mrlakukan hal tak senonoh di hotel.

Awalnya Wakasek itu mengenal korban inisial GC sejak duduk di bangku SMP, karena korban ikut ekstrakurikuler seni tari di SMP.

Dan pada tanggal 28 Desember 2018, korban menghubungi terdakwa melalui aplikasi line, menanyakan siapa pasangan menari korban. Akan tetapi, pelaku malah mencoba merayu korban dengan mengajak jalan-jalan.

Pada saat latihan menari terdakwa menyuruh korban agar datang lebih awal. Dan meminta korban ke ruang sebelah. Korban pun sempat menolak, namun terdakwa mengancam jika tidak menuruti perintahnya, korban tidak diikutsertakan menari.

Karena takut, korban pun menuruti permintaan terdakwa dan menuju ruang tersebut. Disanalah pelaku melakukan aksi bejatnya.

Aksi bejat pelaku pun terus berlanjut, ia kembali mengancam korban, menyuruh masuk ke ruang guru dan melancarkan aksinya.

Pada Bulan Januari 2018 sekitar pukul 13.00 Wita seusai latihan menari, pelaku semakin berani ia menemui dan mengajak korban ke Hotel Oranjje.

Permintaan terdakwa untuk berhubungan badan ditolak korban. Namun lagi-lagi, terdakwa mengancam dan meminta korban menyusul ke hotel tersebut. Karena takut, korban pun menuruti permintaan terdakwa dan menemuinya di parkiran hotel.

Terungkap pelaku lebih dari sekali melancarkan aksi bejatnya terhadap korban di Hotel Oranjje. Bahkan seminggu kemudian korban dipaksa melakukan hubungan intim bertiga bersama temannya berinisial KE di hotel tersebut.

Seakan tak puas, terdakwa lagi-lagi menyetubuhi korban di penginapan kawasan Jalan Siulan, Denpasar.

Perlakuan tak senonoh yang dialami korban pun sempat diceritakan pada ke temannya. Rekan korban itu pun melakukan screenshot percakapannya dengan korban dan menceritakan ke orang lain.

Hal tersebut menjadi bahan pembicaraan, hingga akhirnya orangtua korban mengetahui dan segera melaporkan ke pihak kepolisian. Pihak polisian pun melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku.

Putu Arif Mahendra alias Arif akhirnya menjalani sidang perdananya, Senin (16/7/2018) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Ia diadili, karena diduga melakukan persetubuhan terhadap anak dibawah umur, yang tak lain adalah siswinya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Oka Surya Atmaja menyatakan dari dakwaan yang telah dibacakan di muka persidangan secara tertutup, terdakwa melalui tim penasihat hukumnya yakni Iswahyudi dkk mengajukan keberatan.

Dengan diajukannya keberatan atau eksepsi, majelis hakim pun menunda persidangan dan memberikan waktu kepada tim penasihat hukum terdakwa untuk menyusun nota eksepsi.

Dakwaan primair berbunyi, bahwa terdakwa melakukan beberapa perbuatan kejahatan yang ada hubungannya sedemikian rupa, sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

Berupa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain yang dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan.

Untuk itu, Putu Arif dinilai melanggar Pasal 81 ayat (3) Undang-Undang No.35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sebagaimana dakwaan primair, Putu Aif terancam pidana maksimal 20 tahun penjara.

Sedangkan dakwaan subsidair disebutkan, bahwa terdakwa melakukan beberapa perbuatan kejahatan yang ada hubungannya sedemikian rupa, sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

Berupa, dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Sesuai dakwaan subsidair, Putu Arif dijerat pidana Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang No.35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Dengan ancaman 15 tahun penjara.

Bagikan artikel ini